Kabupaten Ciamis,- Www.tabloidfbi.com,- Organisasi Gabungan Ciamis Cinta Organik (Gacor) yang berdiri sejak tahun 2024 terus mengembangkan inovasi pupuk kompos atau organik dan pengembangan padi organik berbasis System Rice of intensifikasion (SRI) yang cara menanam padinya satu satu, SRI masuk ke Indonesia tahun 1997.
Gacor juga pernah melakukan pelatihan, salah satunya digelar di smk peternakan panumbangan, kerjasama dengan dinas pertanian dan ketahanan pangan ciamis, selain di Panumbangan, di ponpes banyulana Baregbeg, dan di setiap titik kelompok gacor terus diberikan pelatihan pembuatan pupuk kompos atau organik.
Menurut Dekan Fakultas Pertanian Universitas Galuh Ciamis, yang juga sebagai bidang litbang di Organisasi Gacor, Dr. Muhamad Nurdin Yusuf, mengungkapkan alasan kenapa mengembangkan pupuk kompos / organik di kabupaten ciamis. Yaitu, karena terjadinya degradasi lahan, lahan rusak sebagai akibat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan, efeknya adalah terjadi penurunan produktifitas yang semakin berkurang. Selasa 18/3/2025
“Sementara semakin kesini kesadaran masyarakat atas kesehatan semakin tinggi, sebab pupuk kimi mengandung residu residu yang membahayakan bagi manusia dan lingkungan,” ujarnya.
Nurdin menambahkan, dengan pertanian organik produktifitas yang turun itu sendiri bisa ditingkatkan, sebab beberapa percobaan menunjukan bahwa lahan yang menggunakan pupuk kimia kemudian diganti dengan organik, produktifitasnya tidak turun, tapi malah naik.
Untuk bahan baku pembuatan pupuk organik yang dikembangkan mereka, yaitu menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar petani, jadi nantinya produk yang dihasilkan para petani bukan untuk dijual, tapi digunakan untuk petani sendiri.
“Untuk prosesnya pembuatannya, hijauan atau dedaunan dicacah terlebih dahulu, kemudian di fermentasi menggunakan bakteri-bakteri tertentu. Supaya cepet busuk, mudah diuraikan menjadi nutrisi bagi tanaman,” imbuhnya.
“Sejauh ini sudah dilakukan sosialisasi kepada para petani untuk bisa menggunakan bahan bahan organik yang tersedia di lingkungan petani, salah satunya dengan melakukan pelatihan itu, sehingga petani tidak lagi mengalami kelangkaan pupuk, mereka dengan sendirinya akan terbebas dengan pupuk kimia,” ungkapnya.
Disinggung tentang keunggulan pupuk kompos dibandingkan pupuk kimia, ia menjelaskan pupuk organik, lebih mudah untuk diserap oleh tanaman dan lebih ramah lingkungan, tidak mengandung barang barang berbahaya, bisa mengembalikan struktur dan kesuburan tanah, pertanian mengunakan organik bisa berkelanjutan sosial ekonomi.
“Pupuk kompos atau organik ini bisa diproduksi sendiri oleh petani karena memanfaatkan barang-barang yang tersedia. Jika dalam konsep kekinian disebut LEISA – low external input and sustainable agriculture Penggunaan input luaran rendah,” paparnya.
“Sejauh ini, hasil pelatihan sudah diterapkan lebih dari 80%, jadi petani-petani yang ada di daerah, dimulai dari tokoh masyarakat dan tokoh agama mengaplikasikan itu kemudian ditiru, karena kita masih tahap sosialisasi,” ucapnya.
“Potensinya sangat besar untuk mengembangkan organik, mayoritas penduduk ciamis bekerja di sektor pertanian, ketersediaan lahan yang masih memadai. Termasuk salah satu lumbung padi jawa barat. Sehingga dengan adannya pengembangan ini Diharapkan dapat memberikan nilai tambah dari produk yang dihasilkan yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan petani,” pungkasnya.( taofik)


