Kabupaten Ciamis,- Www.tabloidfbi.com,- Obwis Tirta Winaya dulu merupakan salah satu kolam renang primadona di kabupaten Ciamis, naas sekarang obwis tersebut harus ditutup sementara akibat tidak adanya anggaran untuk sekedar perbaikan bahkan pemeliharaan.
Tokoh masyarkat sekaligus pemerhati sosial H. Dedi Setiabudi SH kepada awak media mengatakan, dahulu kolam renang Tirta Winaya tersebut merupakan tempat wisata dan olahraga yang banyak dikunjungi anak-anak dan masyarakat, siswa dan siswi sekolah maupun umum. Rabu 30/4/2025
“Apalagi di hari libur nasional maupun akhir pekan, obwis tersebut padat oleh pengunjung, tidak hanya yang akan berolahraga renang saja, melainkan sekedar mengisi akhir pekan bersama keluarga juga,” ujarnya.
Dedi menambahkan, dengan ditutup sementaranya obwis tersebut yang dikarenakan tidak adanya biaya untuk perbaikan dan pemeliharaan jelas sangat miris, seharusnya itu tidak sampai terjadi jika tata kelolanya yang benar, transfaran dan jelas.
“Ada retribusi yang harus dibayar oleh setiap pengunjung sebesar Rp. 6.500 untuk anak-anak dan Rp. 7000 untuk dewasa, dengan rara-rata seharinya 100 pengunjung saja sudah terkumpul angka sebesar kurang lebih Rp. 650.000,- dalam setiap harinya, kemanakan uang tersebut jika untuk sekedar perbaikan dan pemeliharaan saja tidak ada,” ungkapnya
Dedi menuturkan, melihat kondisi saat ini obwis Tirta winaya menjadi salah satu penghasil PAD untuk kabupaten Ciamis, tetapi sayang potensi yang bagus sebagai penghasil PAD seolah terabaikan akibat ketidak mampuan dalam hal pengelolaannya.
“Miris, di saat bupati menggembor-gemborkan peningkatan PAD, tetapi jajaran OPD di bawahnya tida memiliki inovasi dan kreasi untuk pengembangan nya, bahkan yang nampak di depan mata saja seolah terabaikan, bukan hanya dari sektor pariwisata saja, tetapi ada potensi-potensi penghasil PAD lain yang tidak dioptimalkan,” jelasnya.
Senada, warga setempat wilayah tirta winaya Kusnadi mengatakan, cukup di sayangkan dengan penutupan sementara obwis tirta winaya ini, karena jika dilihat pengunjung dalam setiap hari bisa mencapai 100 pengunjung lebih, bahkan menjadi tontonan tersendiri buat saya ketika obwis tersebut buka.
“Saya suka nongkrong di samping rumah sambil melihat anak-anak yang sedang bermain dan berenang, bahkan bisa menghidupkan perekonomian warga di sini juga jika tirta ini buka, dengan adanya kios kios penjual jajanan anak-anak dan warung kopi, bahkan ada juga pedagang yang datang ke lokasi untuk sekedar berjualan,” imbuhnya.
“Hemat saya, seharusnya tidak perlu sampai ditutup walaupun sementara jika pengelolaan nya benar, kan ada retribusi dari setiap pengunjung, kemanakan uang itu?, kalau tidak bisa dalam hal pengelolaan alangkah baiknya serahkan ke pihak ketiga saja agar obwis ini bisa tetap buka dan berjalan,” paparnya.
“Jika retribusi sebesar Rp. 6.500 untuk anak-anak dan Rp. 7.000 untuk dewasa dengan rata-rata 100 pengunjung dalam setiap bulan bisa terkumpul sekitar Rp. 19.000.000,-, masa iya ngga cukup untuk sekedar pemeliharaan dan perbaikan, masyarakat sangat menantikan obwis ini bisa dibuka kembali, disamping sebagai hiburan yang murah meriah, ada perputaran ekonomi juga bagi warga di sini,” pungkasnya.( taufik )


