Kabupaten Ciamis,- Www.tabloidfbi.com,- Program makan Bergizi gratis merupakan program strategis pemerintah, dimana tujuannya untuk memberikan asupan gizi untuk anak-anak sekolah semua jenjang pendidikan sebagai tulang punggung masa depan bangsa di masa yang akan datang.
Pemerhati sekaligus pelaku usaha asal Lakbok Deni Suganda mengatakan, dalam program ini semua anak-anak sekolah wajib mendaparkan sesuai dengan porsinya masing-masing, dimana program ini bergulir awal tahun 2025 dan berjalan sampai sekarang. Sabtu 27/9/2025
“Disayangkan program strategis presiden ini tercoreng olah oknum yang ikut berkutat didalam program tersebut, sehingga ketimpangan daerah terjadi akibat terlalu berorientasi ke bisnis semata,” ucapnya.
Deni menambahkan, dengan banyak beredar di media sosial dan media elektronik terkait program mbg tersebut menimbulkan kecemasan di masyarakat, ada yang keracunan dan ada pula yang sampai saat ini belum merasakan mbg.
“Sebagai contoh kecil di kabupaten Ciamis itu masih ada kecamatan yang belum merasakan program MBG seperti hal nya wilayah lain,” ujarnya.
Menurut deni, para pelaku yang ikut serta dalam program tersebut sebaiknya mengedepankan azas keadilan jangan hanya mengedepankan faktor bisnis semata, kenapa di wilayah pesisir perbatasan kabupaten Ciamis anak-anak sekolah nya belum bisa mendapatkan MBG, apa itu karena jauh dan jumlah siswa yang terbatas akibatnya tidak ketutup biaya operasional sehingga diabaikan?.
“Pemerintah daerah mesti hadir untuk menyikapi hal tersebut, juga para pelaku bisa lebih mementingkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia bukan berorientasi bisnis saja, dan para pengusaha lokal juga bisa ikut berpartisipasi dalam mensukseskan program tersebut di wilayahnya,” jelasnya.
“Jangan sampai masyarakat yang bersuara apalagi bereaksi, sebab wilayah kecamatan tersbeut juga bagian dari kabuapten Ciamis dan Indonesia yang harus juga merasakan program pemerintah MBG, sehingga keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia bisa terwujud dan tidak hanya sebatas slogan saja,” paparnya.
“Jika para pelaku program tersebut masih mengedepankan faktor bisnis tanpa memperhatikan aspek sosial dan aspek keadilan, program ini akan menjadi gunung es yang suatu saat bakal mencair dan membuat banjir, disamping perbaikan karena banyak siswa dan siswi yang keracunan substansi MBG, pemerataan juga wajib di kedepankan,” tukasnya.


