Penutupan Aset Jalan Gondoruso Oleh Pemda Mendapat Perlawanan warga
Lumajang,FBI.www.tabloidFBI.com-Penutupan aset jalan (Portal) desa gondoruso kecamatan pasirian kabupaten Lumajang, mendapatkan perlawanan dari warga. Keputusan yang terkesan tebang pilih dirasakan oleh warga pekerja pasir dan para pengemudi damtruk yang sehari-hari mencari makan dari kerja pasir. Karena dengan ditutupnya aset jalan utama jalur gondoruso ekonomi rakyat kecil pekerja pasir manual dan para sopir yang mencari nafkah buat keluarganya mati total. Rabu (31/7/2024).
Dari hasil mediasi antara pihak Pemkab Lumajang yang diwakili oleh satpol PP, dishub dan anggota polsek pasirian dan warga pekerja pasir dibaledesa gondoruso.(29/7).
Kades gondoruso Suparman menyampaikan kepada warga untuk menahan diri dan taat pada aturan. Namun dia tetap akan memperjuangkan kelangsungan hidup warganya.
“Kalau saya disuruh memilih akan memperjuangkan nasip warga, namun dihadapkan dengan aturan dari pemkab ya harus ikuti aturan.” Ujarnya.
Suparman bahkan ketika harus menutup tambang pasirnya asalkan warga bisa bekerja, dia rela demi masyarakatnya. Namun ketika terbit perintah dari pemkab Lumajang, dia menghimbau warganya untuk menahan diri dan ikuti aturan sambil mencari jalan keluar (solusi) terbaik bagi warganya agar tidak menabrak aturan.
Disatu sisi lain perwakilan warga Rokim menyampaikan aspirasinya, agar pemkab dalam mengambil kebijakan tidak tebang pilih. Kalau memang harus ditutup ya harus ditutup total semua. Bukan jalur gondoruso ditutup namun jalur bondeli justru dibebaskan untuk melintas truk muatan pasir.
Tentunya hal itu sangat tidak adil dan terkesan menganak tirikan warga gondoruso yang pekerja pasir. Karena apabila jalur gondoruso ditutup sedangkan bondeli dibebaskan, pasir digondoruso tidak laku karena pasir apabila dijual dengan harga yang sama. Sopir truk lebih memilih beli didesa jugosari disebabkan pertimbangan jarak dan BBM yang lebih irit.” Ulas Rokim.
Dia meminta keadilan, karena warga mempunyai hak hidup yang sama sebagai warga negara. Warga justru menduga adanya tumpangan politik menjelang pilkada, terkesan adanya pengondisian situasi tersebut. Menurutnya adanya himbauan atau sosialisasi yang mendadak, dan kebijakan yang selalu berubah-ubah. Dirinya meminta pemkab Lumajang meninjau kembali kebijakan yang dikeluarkan tersebut.
“Kami warga pekerja pasir dan para sopir jalur Gondoruso-Kalibendo tidak mencari kekayaan tapi kami hanya sekedar cari makan.” Pungkasnya. (Den)


