Kabupaten Ciamis,- Www.tabloidfbi.com,- Sosok Ahmad Fawzi Pangestu SH. MH yang merupakan salah satu Kepala Desa termuda di Kabupaten Ciamis, dimana saat pelantikan 3 tahun silam baru berusia 25 tahun 4 bulan, terlahir dari keluarga yang sederhana.
Sosok Fawzi bisa menjadi inspirasi untuk generasi muda saat ini, dimana di usia yang masih muda sudah berani ikut serta terjun dalam bidang politik walaupun di skala Desa, saat ini Ia menjabat sebagai Kepala Desa Janggala Kecamatan Cidolog Kabupaten Ciamis.
Fauzi menuturkan, perjalanan menjadi seorang kepala desa Janggala sat ini bisa disebut tanpa disengaja, berawal dari sekedar melihat baliho tentang Pilkades pada waktu itu tepat ketika saya sedang kuliah di UNIGAL untuk pengambilan S2 Bidang hukum, awal itulah saya mendaftarkan diri menjadi kepala desa. Kamis 18/4/2024
“Kalau secara basic pendidikan saya bersekolah di hukum, S1 saya di Cipasung dan S2 di Unigal,” ucapnya.
Fawzi mengatakan, ketidak sengajaan ini seolah berkah walaupun pada saat pencalonan saya bersaing dengan orang-orang yang sangat kompeten dan sudah terbiasa dengan lingkungan pemerintahan desa, ada BPD, incambent, Kadus dan tokoh masyarakat.
“Sebetulnya latar belakang keluarga saya juga keluarga yang sederhana, tidak ada pikiran saya bakal seperti ini, bahkan dulu saya pernah berjualan tahu bulat selama kurang lebih 2 tahun pada waktu setelah keluar sekolah SMA, tidak ada kepikiran untuk kuliah apalagi menjadi kepala desa,” terangnya.
Fawzi menambahkan, perjalanan hidup saya sebelum menjadi kepala desa bisa disebut cukup singkat, dari mulai keluar sekolah, berjualan tahu bulat, lalu saya pulang ke pesantren Cipasung sambil berkuliah, di Cipasung lah jiwa politik saya muncul.
“Pesantren Cipasung sering sekali mendapat kunjungan dari orang orang besar atau pejabat, di sana saya sering disuruh oleh guru dan pimpinan pesantren pada waktu itu untuk mendampingi, sehingga pengetahuan tentang cara berpolitik saya dapat secara otodidak oleh keadaan,” paparnya.
“Banyak kejadian kejadian lucu dan cukup mengherankan juga, padahal sejak keluar sekolah SMA saya jarang sekali pulang, banyak waktu saya habiskan di luar Desa, bahkan orang yang satu dusun dengan saya pun ada yang tidak mengetahui ke saya,” celotehnya.
Kepala Desa menurut saya itu jabatan politik tingkat Desa, sehingga diperlukan inovasi inovasi yang berbeda untuk bisa bersinergi dengan seluruh lapisan masyarakat, jajaran pemerintahan desa, BPD, LPM, karang taruna dan muspika, sampai hampir 4 tahun saya menjabat masih terus belajar setiap hari.
“Saya memiliki buku 800 halaman, buku itu berisi berbagai karakter Desa Janggala, secara geografis wilayah, kekurangan dan kelebihan wilayah, karakter masing masing dusun bahkan karakter person pun saya tulis, sehingga dengan tulisan itu menjadi refrensi bagi saya untuk bagaimana caranya dalam proses pelayanannya,” tambahnya.
“Suka duka menjadi kepala desa dengan usia masih seumur jagung dan pengetahuan saya yang masih sangat terbatas, jelas rasa canggung itu selalu ada sampai sekarang pun, tetapi alhamdulillah sampai saat ini perjalanan pemerintahan desa Janggala bisa berjalan dengan baik,” jelasnya.
“Alhamdulillah perjalan saya menjadi kepala desa merupakan berkah yang sangat luar biasa buat saya dan kelurga saya, dimana saya yang merupakan asli orang Desa Janggala, bersekolah di sini tetapi besar diluar daerah, dan kembali ke Janggala langsung menjadi Kepala Desa, semoga saya bisa meninggalkan kesan kesan positif baik dalam pembangunan infrastruktur, perekonomian dan pemberdayaannya, siapapun nanti yang akan menggantikan saya setidak nya saya telah meninggalkan hal hal yang positif untuk Desa Janggala yang lebih maju dan berkembang untuk menggapai kesejahteraan masyarakat yang adil dan merata,” pungkasnya ( red )


