Wartawan vs Wartawan: Ketika Etika Dikalahkan oleh Nafsu Viral
Oleh: Oesep Sarwat, Praktisi Media
SUMEDANG FBI.www.tabloidfbi.com – Selasa 14/4/2026 Jika dulu publik mengenal wartawan sebagai penjaga gerbang kebenaran, kini sebagian mulai tampil layaknya gladiator digital—bertarung di arena terbuka, saling serang, saling bongkar, dan ironisnya, sering kali tanpa bekal data yang utuh.
Fenomena “wartawan memberitakan wartawan” bukan lagi sekadar kritik internal profesi. Ia telah berubah menjadi semacam pertunjukan: siapa paling cepat mengunggah, dialah yang merasa paling benar. Soal akurasi? Itu urusan belakangan.
Dari Verifikasi ke Spekulasi
Dalam praktiknya, sebagian oknum tampak alergi terhadap proses konfirmasi. Prinsip check and recheck yang dulu sakral, kini seperti barang usang yang ditinggalkan di ruang redaksi. Yang menggantikannya adalah spekulasi, asumsi, dan potongan informasi yang dirangkai seolah-olah menjadi kebenaran utuh.
Lebih mengkhawatirkan lagi, asas praduga tak bersalah seakan hanya berlaku untuk orang lain—bukan untuk sesama wartawan yang sedang “naik panggung”.
Jurnalisme atau Konten Kreator Berkartu Pers?
Batas antara jurnalis dan pembuat konten kini makin kabur. Bedanya tipis: yang satu seharusnya bekerja dengan standar etik, yang lain bebas bermain dengan sensasi. Namun ketika wartawan mulai mengunggah “berita mentah” ke akun pribadi tanpa proses editorial, publik berhak bertanya: ini produk jurnalistik, atau sekadar konten kejar tayang?
Kalimat “ini akun pribadi” sering dijadikan tameng. Padahal, identitas sebagai wartawan tidak bisa dilepas seperti jaket. Sekali melekat, tanggung jawab etik ikut menempel—baik di ruang redaksi maupun di linimasa pribadi.
Hakim Tanpa Cermin
Yang lebih satir, sebagian dari mereka tampil sebagai pengadil paling vokal. Dengan nada tegas, mereka menguliti kesalahan orang lain. Namun sayangnya, keberanian itu sering tidak diiringi dengan kebiasaan bercermin.
Publik kini semakin cerdas. Mereka tidak hanya membaca berita, tetapi juga membaca siapa yang menulisnya. Ketika integritas penulis dipertanyakan, maka isi tulisannya ikut kehilangan bobot.
Pers di Persimpangan: Pilar atau Panggung?
Jika tren ini terus dibiarkan, pers berisiko kehilangan posisi terhormatnya sebagai pilar demokrasi. Ia bisa tergelincir menjadi sekadar panggung—tempat sensasi lebih laku daripada substansi, dan konflik lebih menarik daripada kebenaran.
Padahal, kekuatan pers bukan pada siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling dapat dipercaya.
Saatnya Menarik Rem Darurat
Profesi ini tidak kekurangan aturan. Undang-undang sudah ada, kode etik sudah jelas. Yang kurang hanyalah kemauan untuk patuh.
Mungkin sudah waktunya insan pers menarik rem darurat. Bukan untuk membungkam kritik, tetapi untuk memastikan bahwa setiap kritik lahir dari proses jurnalistik yang benar—bukan dari dorongan emosi atau ambisi pribadi.
Karena jika wartawan terus sibuk “membongkar” tanpa standar, maka cepat atau lambat, publik akan berhenti peduli.
Dan saat itu terjadi, yang runtuh bukan hanya reputasi individu—melainkan kepercayaan terhadap pers itu sendiri.
Penulis / Editor :
Oesep Sarwat


