Rela Berjualan Cilok Akibat Kondisi Ekonomi, Siswi SD di Ciamis Hampir Putus Sekolah.
Kabupaten Ciamis FBI.
www.tabloidfbi.com-Siswi kelas 3 Sekolah Dasar Negeri Bojongmenger 4 Kecamatan Cijeungjing Kabupaten Ciamis hampir putus sekolah akibat kondisi ekonomi yang memaksa Nindi berjualan cilok untuk membantu kebutuhan keluarganya.
Sejak orangtuanya bercerai sepuluh tahun lalu, Nindi belum pernah bertemu dengan kedua orangtuanya, kini Ia tinggal bersama kakeknya dalam keterbatasan.
Menanggapi hal tersebut Ketua Gerakan Peduli Pendidikan Bangsa (GPPB) Taopik Budiman tergerak untuk membantu Nindi dengan memberikan seragam sekolah pada Senin 11 Desember 2024.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan adalah hak setiap anak, terlepas dari latar belakang keluarga atau kondisi ekonomi mereka.
“Kami tidak ingin ada anak usia sekolah yang kehilangan kesempatan belajar hanya karena alasan ekonomi seperti Nindi, ini tanggung jawab kita semua,” tegasnya.
Selain memberikan seragam sekolah, GPPB juga berencana berkolaborasi dengan pihak desa dan sekolah untuk memastikan Nindi tetap dapat mengenyam pendidikan.
“Kami akan terus mendampingi dan mencari solusi agar Nindi bisa fokus belajar. Masa depan anak tidak boleh terhenti hanya karena kondisi ekonomi,” tambahnya.
Sementara itu, Bantuan yang diberikan oleh GPPB diharapkan menjadi awal dari perubahan besar bagi Nindi. Taopik menegaskan bahwa pendidikan merupakan pondasi penting dalam membangun masa depan yang lebih baik.
“Kami tidak ingin membantu sesaat. Kami ingin memastikan Nindi dan anak-anak lain di situasi serupa mendapatkan hak mereka atas pendidikan,” ujar Taopik.
Ia mengajak masyarakat untuk peduli terhadap pendidikan anak-anak di sekitar mereka.
“Jangan biarkan ada anak yang putus sekolah. Jika kita bersama-sama membantu, tidak ada yang mustahil,” tutupnya.
Dengan langkah ini, Nindi diharapkan dapat kembali bersekolah dengan semangat baru dan memiliki harapan untuk masa depannya. GPPB dan sekolah akan terus mendukungnya agar ia tidak kehilangan hak atas pendidikan yang layak.
Senada dikatakan Kepala Sekolah SDN Bojongmenger 4 Rayu mengatakan bahwa Nindi sempat tidak masuk sekolah selama beberapa bulan. Berdasarkan informasi warga, Nindi awalnya dibawa ibu tirinya ke Kota Banjar dengan alasan akan dimasukkan ke pesantren. Namun, kenyataannya Ia sering terlihat berjualan cilok di sekitar tempat tinggalnya.
“Sejak awal masuk sekolah ini, dia diantar bukan oleh keluarganya. Kami sangat prihatin. Bahkan para guru sepakat untuk membantu Nindi agar tetap bersekolah,” ungkap Rayu.
Rayu menjelaskan, meskipun tidak mudah, sekolah terus berusaha untuk mempertahankan Nindi agar tetap bersekolah. Rayu menjelaskan bahwa pihaknya sering kali kesulitan berkomunikasi dengan keluarga Nindi karena kakeknya jarang ada di rumah.
“Kami selalu menanyakan alasan Nindi tidak masuk, tetapi kondisi keluarganya membuat kami terbatas dalam bertindak,” lanjutnya.
Kendati demikian, Rayu sangat berterima kasih kepada GPPB atas kepedulian mereka terhadap siswa di sekolahnya.
“Bantuan ini sangat berarti bagi kami, terutama untuk Nindi. Kami berharap ini bisa memotivasi dia untuk terus bersekolah dan mengejar cita-citanya,” tukasnya. ( Red )


