Kabupaten CiamisFBI- Www.tabloidfbi.com,- Tidak semua perusahaan besar lahir dari modal besar. Ada yang tumbuh dari tabungan hasil bekerja, keberanian mengambil peluang, dan kemauan untuk terus belajar.
Perjalanan itu dibagikan H. Rizky E Saputra, SE., ST., MM., saat family gathering KP2K (Kebersamaan, Persatuan, Persaudaraan Dan Kecerdasan) Rizky Jaya Group di Puncak Pass Darajat, Kabupaten Garut, Minggu (21/9/2026).
Di hadapan keluarga besar perusahaan, Rizky menceritakan perjalanan panjang membangun usaha yang dirintis sejak Juni 1996. Titik awalnya sederhana, hanya bermodalkan uang tunai sekitar Rp50 juta yang dikumpulkan dari hasil bekerja selama empat tahun.
Pada 15 Juni 1996, modal tersebut digunakan untuk membeli besi dari Jakarta. Saat itu, ia mengambil satu mobil Fuso berisi besi dengan nilai sekitar Rp50 juta.
Langkah tersebut menjadi awal perjalanan Rizky Jaya hingga berkembang menjadi perusahaan besi yang dikenal di Ciamis.
“Saya punya uang sekitar Rp50 juta. Itu hasil bekerja selama empat tahun, dari 1992 sampai 1996. Tanggal 15 Juni 1996, modal itu saya gunakan untuk membeli besi dari Jakarta, satu mobil Fuso,” ujar Rizky.
Sebelum menjadi pengusaha, Rizky menyelesaikan pendidikan S1 Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya dan diwisuda pada 19 Februari 1992.
Pilihan terjun ke bisnis besi juga lahir dari pertimbangan terhadap kebutuhan pasar. Ia melihat sektor bahan bangunan memiliki ruang pertumbuhan karena pembangunan rumah maupun kebutuhan renovasi akan terus berjalan.
“Kalau usaha di bidang besi atau toko besi, insyaallah bisa bertahan karena kebutuhan terhadap pembangunan terus ada. Orang yang belum punya rumah ingin membangun, yang sudah punya rumah ingin memperbaiki atau menambah. Itu yang membuat kebutuhannya terus bergerak,” katanya.
Menurut Rizky, kebutuhan tersebut bukan hanya berasal dari pembangunan yang dilakukan pemerintah. Masyarakat secara perorangan juga terus membutuhkan bahan bangunan untuk membangun, memperbaiki maupun mengembangkan tempat tinggal.
Karena itu, menjalankan perusahaan baginya bukan sekadar menjual produk. Pengusaha dituntut terus membaca perkembangan pasar dan mencari gagasan baru.
Selama sekitar 30 tahun menjalankan usaha, Rizky mengaku kebiasaan belajar tidak pernah berhenti. Bahkan setelah aktivitas perusahaan selesai, ia masih menyempatkan diri membaca berbagai referensi untuk mencari ide pengembangan usaha.
“Senang menjadi pengusaha, tetapi pikiran tidak pernah berhenti. Kadang setelah selesai bekerja sekitar pukul 10 atau 11 malam, saya masih membaca referensi untuk mencari bagaimana perusahaan bisa dikembangkan, apa yang sudah ada dan apa yang belum ada,” tuturnya.
Perjalanan bisnis, kata Rizky, juga tidak selalu berjalan mulus. Ada masa ketika penjualan lancar dan pembayaran pelanggan masuk sesuai harapan. Namun, ada pula saat pasar sepi sementara kewajiban pelanggan belum terselesaikan.
“Kalau penjualan lancar, kemudian customer yang punya utang membayar, itu sangat menyenangkan. Tapi ketika pasar sedang sepi dan pembayaran pelanggan belum masuk, tentu menjadi bagian yang kurang menyenangkan,” ucapnya.
Di tengah perjalanan membangun perusahaan, Rizky juga menempatkan keluarga dan nilai-nilai kebaikan sebagai bagian penting dalam kehidupan.
Ia mengatakan, keluarga memiliki komitmen untuk terus berusaha melakukan kebaikan dan memberikan yang terbaik setiap hari.
“Komitmen keluarga kami, setiap hari harus berbuat baik dan melakukan yang terbaik. Itu konsekuensinya, baik untuk istri, anak maupun saya sendiri. Kami berusaha menjalankannya setiap hari,” katanya.
Selain kerja keras, Rizky meyakini doa orang tua memiliki peran besar dalam perjalanan seorang anak. Prinsip tersebut terus menjadi pegangan selama menjalankan usaha hingga saat ini.
Family gathering KP2K Rizky Jaya Group di Puncak Pass Darajat tidak hanya menjadi kesempatan berkumpul bersama keluarga besar perusahaan. Kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk kembali melihat perjalanan usaha yang dibangun dari modal terbatas hingga mampu bertahan dan berkembang selama tiga dekade.
Menjadi Panutan Pengusaha Muda
Perjalanan tersebut turut mendapat perhatian dari salah seorang pengusaha muda asal Ciamis Deny.
Deny menilai kisah Rizky Jaya memberikan pelajaran penting bagi generasi yang tengah membangun usaha.
Menurutnya, keberhasilan Rizky bukan hanya terlihat dari perkembangan perusahaan, tetapi juga dari proses panjang mempertahankan usaha sejak dimulai dengan modal Rp50 juta.
“Bagi saya, perjalanan Pak Rizky menjadi panutan. Beliau memulai dari bawah dengan modal yang tidak besar, tetapi bisa bertahan dan terus mengembangkan perusahaan selama puluhan tahun. Ini patut dicontoh oleh pengusaha muda, terutama bagaimana beliau konsisten, mau belajar dan tidak berhenti mencari peluang,” ujarnya.
Ia menilai perjalanan tersebut menunjukkan bahwa membangun usaha membutuhkan proses panjang. Modal menjadi bagian awal, tetapi konsistensi, kemauan belajar dan kemampuan melihat peluang turut menentukan bagaimana sebuah usaha dapat terus berkembang.
Dari modal Rp50 juta dan satu mobil Fuso berisi besi dari Jakarta, Rizky Jaya menapaki perjalanan panjang hingga tiga dekade. Kisah itu kini tidak hanya menjadi catatan perjalanan perusahaan, tetapi juga menjadi pengalaman yang dibagikan kepada generasi pengusaha berikutnya.( taufik )



